vendredi 22 janvier 2021

Belajar Menjadi Revolusioner

Judul Buku: Rosa Luxemburg: Sosialisme dan Demokrasi
Penulis: Dede Moeljanto
Penerbit: Marjin Kiri, 2019
Tebal: xx + 253 hlm
Peresensi: Eko Prasetyo
suluhpergerakan.org
 
“Paras dan takdir sejarah sebuah negeri ibarat kitab yang tertutup bagi kita jika kita tidak mengetahui perikehidupan ekonomi dan semua akibat sosial yang ditimbulkannya” (Rosa Luxemburg)
 
Saya lama tak bertemu Dede Mulyanto. Ketika saya menjemputnya di stasiun tak banyak yang berubah dari dirinya: ramah, lucu dan akrab. Bapak yang mencintai keluarga ini memang tak seperti banyak aktivis kiri lainnya. Terbuka dengan cerita keluarganya dan selalu percaya tulisan itu salah satu cara militan untuk melawan. Saya setuju dengan pendapatnya.
 
Kini Dede menulis karya yang mengaggumkan. Kisah tentang Rosa Luxemburg dan gagasan politiknya. Rosa namanya banyak disebut oleh para pejuang Republik. Soekarno, Semaun hingga Kasman Singodimedjo menganjurkan rakyat untuk mengenal pikiran Rosa Luxemburg. Anjuran yang langka dan tak terulang mungkin hingga turunya Imam Mahdi. Politisi kita hari ini bisa jadi tak mengenalnya apalagi paham pikiranya.
 
Dede seperti memenuhi ajakan para pendiri Republik. Pesan mereka diterimanya dengan antusias dan bersemangat. Naskah ini katanya sudah ditawarkan ke sejumlah penerbit Kiri tapi hanya Marjin Kiri yang bisa memenuhi harapan Dede. Terdiri atas dua jilid, buku ini datang dengan pesan yang radikal: Rosa melawan semua bentuk penghianatan pada ide dan gagasan agung Karl Marx.
 
Bedah buku Rosa di Jogja dipadati oleh banyak anak muda. Mungkin yang percaya pada teori kiri atau memang ingin mengetahui apa yang dibela Rosa. Aktivis kiri yang sejak usia 16 tahun memutuskan untuk mendaftar pada partai politik yang ketuanya baru saja digantung oleh raja. Ibunya seorang shalihah yang sering mengantar Rosa dengan cerita-cerita Nabi. Yang tak disangka ibunya mungkin puteri kecilnya sangat terobsesi dengan perjuangan Nabi.
 
Rosa tumbuh dengan perlawananya pada kerajaan. Teori kiri membimbingnya untuk terus curiga pada dinasti yang ingin melipat-gandakan laba dengan cara menghancurkan kelas pekerja. Pengetahuan ini disertai oleh rasa penasaran Rosa pada ilmu matematika, astronomi dan botani. Kelak ilmu botani itu yang membawa Rosa kemanapun diasingkan selalu berusaha untuk menanam.
 
Romantik pasti kalau kita menelusuri riwayatnya. Tsar mulai curiga pada partai Polandia yang kiri dan dicurigai mulai bekerja sama dengan kelompok teroris. Itulah masa tergenting dimana kerajaan diguncang oleh para aktivis yang menolak kuasa sang raja. Ide melawan kerajaan bisa berasal dari kaum komunis, populis atau anarko. Sebutan yang dulu hanya berpusat pada keinginan untuk meruntuhkan kerajaan.
 
Rosa berada dalam suasana politik yang seru. Kaum kerajaan memburu semua yang menentangnya dan Rosa bersiasat untuk menghindar, tetap melawan bahkan mengkritik mereka yang meracuni ide marxisme. Buku ini yang memikat adalah debat antara Edward Berstein dengan Rosa yang berusia muda kala itu. Berstein tergolong senior sehingga konflik ini menarik karena pertentangan antar dua generasi marxis.
 
Dede meletakkan debat ini secara menarik hanya saja editing yang tak rapi membuat alurnya agak sumpek dan padat. Sederhananya Berstein merasa akhir sejarah bukan pada revolusi ploretariat tapi kapitalisme yang mereformasi. Reformasi yang mengingkari nilai-nilai dasar marxisme yang bagi Rosa telah menghilangkan roh ide kiri yang sebenarnya. Tuduhan yang berat, serius dan berani. Tapi Rosa memang punya keyakinan yang tak mudah tumbang.
 
Keyakinanya itu diuji bukan sekedar melalui debat tapi pembacaan atas situasi gerakan yang jitu. Soal yang menarik misalnya tentang pemogokan. Kala itu pemogokan dianggap sebagai taktik revolusioner yang dipimpin oleh para organisir dengan tuntutan politik yang radikal. Rosa berbeda: baginya pemogokan tetap kerja para anggota serikat buruh yang muncul karena kerja pengorganisasian yang panjang, serius dan sungguh-sungguh.
 
Kerja pengoranisasian itu tak bertumpu hanya pada pamflet dan selebaran tetapi sekolah-sekolah pekerja yang memberi muatan pada peruncingan kesadaran kelas pekerja atas tatanan sosial yang eksploitatif. Terdapat hubungan dialektis antara spontanitas massa dan pengorganisasian pekerja. Di Rusia, kata Rosa, organisasi pekerja justru lahir karena mogok massa.
 
Rosa memang bahaya bukan saja karena keberanianya tapi gagasan yang ada dalam pikirannya. Seorang yang mempercayai kalau revolusi itu bukan kerja agitasi tapi pengolahan gagasan yang serius, mendalam dan tak bisa disanggah begitu saja. Tulisan Rosa yang dikutip dalam buku ini memberi pemahaman segar tentang gagasan marxisme yang tak bisa ditampik dengan cara mudah. Rosa melawan ketidakadilan dan menyakini jalan revolusi memang bukan lika liku yang sederhana.
 
Dalam istilah yang puitis: “Dari beliung dan badai lahir angin mogok-mogok massa yang tersebar: dari pertempuran jalanan, lahir serikat pekerja muda yang segar, bertenaga dan bergairah. Kerja organisasi bukan soal memberi perintah atau komando melainkan penyesuaian diri dengan situasi, sambil terus membuka kontak organisasi dengan suara hati massa.”
 
Buku ini membuat kita bisa menyaksikan pertumbuhan seorang revolusioner yang tumbuh di tengah pertarungan politik yang keras, debat teoritis gerakan yang luar biasa dan massa sadar yang punya kehendak menggulingkan tatanan. Kritik Rosa pada gerakan di masa lalu masih relevan hingga saat ini: kecenderungan ekonomisme dan watak parlementarisme. Satunya membuat gerakan hanya jalur karir individu untuk mencapai keberhasilan ekonomi dan satunya membuat gerakan terjerembab dalam ikatan kekuasaan.
 
Rosa percaya bahwa ‘liberalisme borjuis sudah terbukti tak lebih dari sekutu licik’. Pandanganya yang tajam, keras dan agitatif ini yang membuat Rosa seperti monumen yang tak mudah tumbang. Baginya proletariat harus mandiri dan persekutuan tanpa pamrih dengan borjuasi hanya memasrahkan leher proletariat untuk dipenggal pada saat yang tepat.
 
Rosa memang melihat tugas partai sosialis adalah meleburkan antara ide sosialisme dan gerakan proletariat. Teori dan praktik melebur dalam partai. Maka emansipasi pekerja bisa terjadi jika kesadaran kaum pekerja akan tugas historis mereka dan untuk sadar akan tugas historisnya masyarakat musti sudah sampai ke tahap perkembangan ekonomi dan politik tertentu sehingga institusi-institusi sosial itu dikembangkan.
 
Memang buku ini bukan biografi tapi seperti yang Dede katakan, buku ini memotret ide dan gagasan politik Rosa dengan kawan-kawan seperjuangannya. Kita tak melihat perbandingan tapi menyaksikan bagaimana Rosa mempertahankan pandanganya dengan dasar argumentasi yang kokoh. Tauladan yang nyaris sempurna bagi aktivis dari manapun asal ideologinya untuk memperlajari sikap ‘istiqomah’ seorang perempuan luar biasa: Rosa Luxemburg.
 
Buku ini buku pertama dari dua buku yang Dede akan susun. Tapi buku pertama ini memberikan kita pandangan kalau Rosa Luxemburg menjadi seorang aktivis melalui pilihan subyektif yang luar biasa: memutuskan diri menjadi aktivis politik saat usia remaja, meyakini kebenaran tesis tentang sosialisme, mempelajari dengan militan semua dalil marxisme kemudian hidup dengan mengabdi pada massa proletariat dan berusaha melawan semua bentuk tendensi yang melemahkan perjuangan.
 
Andai saja Rosa masih hidup hingga hari ini kita bisa bertanya banyak padanya. Buku ini menjawab kekeringan kita semua pada jalan hidup para aktivis kiri dan menyadarkan kita menjadi aktivis bukan pilihan sederhana dan coba-coba. Sebuah buku manis yang tepat dibaca di akhir tahun.
 
***
http://sastra-indonesia.com/2021/01/belajar-menjadi-revolusioner/

Aucun commentaire:

Publier un commentaire

A. Anzieb A. Muttaqin A. Syauqi Sumbawi A.P. Edi Atmaja A.S. Laksana Abdurrahman Wahid Acep Zamzam Noor Adhie M Massardi Adin Adrizas Afrilia Afrizal Malna Afrizal Qosim Aguk Irawan MN Agus B. Harianto Agus Himawan Agus Noor Agus R. Sarjono Agus R. Subagyo Agus Sulton Agus Sunyoto Ahmad Faishal Ahmad Farid Yahya Ahmad Fatoni Ahmad Jauhari Ahmadun Yosi Herfanda Aik R Hakim Akhmad Sekhu Akhudiat Akmal Nasery Basral Albert Camus Alex R. Nainggolan Amanche Franck Amien Kamil Aming Aminoedhin Ana Mustamin Andra Nur Oktaviani Andrenaline Katarsis Anindita S. Thayf Anjrah Lelono Broto Annisa Febiola Anton Wahyudi Aprinus Salam Arafat Nur Arie MP Tamba Arif Yulianto Arifi Saiman Arswendo Atmowiloto Arung Wardhana Ellhafifie Aryo Bhawono AS Dharta Asarpin Atok Witono Awalludin GD Mualif Ayesha B Kunto Wibisono Badaruddin Amir Balada Bambang Bujono Bamby Cahyadi Bandung Mawardi Bantar Sastra Bengawan Beni Setia Beno Siang Pamungkas Berita Berita Duka Berita Foto Bernadette Aderi Bernando J. Sujibto Binhad Nurrohmat Boy Mihaballo Budaya Budi Darma Bustan Basir Maras Catatan Cerbung Cerpen Chairil Anwar D. Zawawi Imron Daisy Priyanti Dareen Tatour Daru Pamungkas Dedy Tri Riyadi Deni Jazuli Denny JA Denny Mizhar Dessy Wahyuni Dharmadi Dhenok Kristianti Dian Sukarno Didin Tulus Dina Oktaviani Djoko Pitono Djoko Saryono Doddi Ahmad Fauji Dwi Fitria Dwi Klik Santosa E. M. Cioran Ebiet G. Ade Eddi Koben Edi AH Iyubenu Edy A Effendi Eka Budianta Eka Kurniawan Eko Permadi Eko Prasetyo Enda Menzies Ernest Hemingway Erwin Setia Esai Evan Gunanzar F. Rahardi Fadllu Ainul Izzi Fahrudin Nasrulloh Faidil Akbar Fairuzul Mumtaz Fajar Alayubi Farah Noersativa Faris Al Faisal Fatah Yasin Noor Fathoni Mahsun Fathurrozak Fauz Noor Fauzi Sukri Fazar Muhardi Feby Indirani Felix K. Nesi Franz Kafka FX Rudy Gunawan Gesang Gola Gong Grathia Pitaloka Gunawan Budi Susanto Guntur Budiawan Gus Noy Gusti Eka H.B. Jassin Hamka Hari Purwiati Haris del Hakim Hartono Harimurti Hasan Gauk Hasnan Bachtiar Henriette Marianne Katoppo Herry Lamongan HM. Nasruddin Anshoriy Ch Holy Adib Hudan Hidayat Humam S. Chudori I Nyoman Darma Putra Ida Fitri Idrus Ignas Kleden Ilung S. Enha Imam Muhayat Imam Muhtarom Imam Nawawi Imamuddin SA Iman Budhi Santosa Indonesia O’Galelano Indra Tjahyadi Indria Pamuhapsari Irwan Apriansyah Segara Isbedy Stiawan Z.S. Iskandar Zulkarnain J Anto Jadid Al Farisy Jakob Oetama Jalaluddin Rakhmat Jamal T. Suryanata James Joyce Januardi Husin Jemi Batin Tikal Jo Batara Surya Johan Fabricius John H. McGlynn John Halmahera Jordaidan Rizsyah Juan Kromen Judyane Koz Junaidi Khab Jurnal Kebudayaan The Sandour Jusuf AN K.H. M. Najib Muhammad Kadjie Mudzakir Kahfie Nazaruddin Kamran Dikarma Kedung Darma Romansha KH. Ahmad Musthofa Bisri Khansa Arifah Adila Khoirul Anam Khulda Rahmatia Kiki Sulistyo Komunitas Sastra Mangkubumen Komunitas-komunitas Teater di Lamongan Kurniawan Kurniawan Junaedhie Kuswaidi Syafi’ie Lagu Laksmi Shitaresmi Latief S. Nugraha Leila S. Chudori Lely Yuana Leo Tolstoy Linda Christanty Linda Sarmili Lutfi Mardiansyah M Zaid Wahyudi M. Adnan Amal M’Shoe Maghfur Munif Mahamuda Mahmud Jauhari Ali Mahwi Air Tawar Maman S. Mahayana Maratushsholihah Mardi Luhung Marhalim Zaini Maria Magdalena Bhoernomo Mariana Amiruddin Mario F. Lawi Maroeli Simbolon Martin Aleida Mashdar Zainal Mashuri Mbah Kalbakal Melani Budianta Mochtar Lubis Moh. Dzunnurrain Mohammad Bakir Mohammad Kasim Mohammad Tabrani Muhammad Ali Muhammad Idrus Djoge Muhammad Muhibbuddin Muhammad Subarkah Muhammad Yasir Muhidin M. Dahlan Mukhsin Amar Mulyo Sunyoto Munawir Aziz Musafir Isfanhari Mustain Myra Sidharta N. Syamsuddin CH. Haesy Naim Nanda Alifya Rahmah Nara Ahirullah Naskah Teater Naufal Ridhwan Aly Nawangsari Nezar Patria Niduparas Erlang Nikita Mirzani Nirwan Ahmad Arsuka Nirwan Dewanto Nur Wahida Idris Nurel Javissyarqi Observasi Ocehan Pameran Lukisan Panggung Teater Pentigraf Performance Art Pondok Pesantren Al-Madienah Pramoedya Ananta Toer Pramono Pringgo HR Prosa Pudyo Saptono Puisi Pustaka Ilalang PUstaka puJAngga Puthut EA Putu Wijaya R. Toto Sugiharto Raedu Basha Rakai Lukman Rakhmat Giryadi Rama Prambudhi Dikimara Ratih Kumala Raudal Tanjung Banua Reiny Dwinanda Reko Alum Remy Sylado Resensi Reza Aulia Fahmi Ribut Wijoto Rikardo Padlika Gumelar Riki Dhamparan Putra Risang Anom Pujayanto Riska Nur Fitriyani Rofiqi Hasan Rokhim Sarkadek Roland Barthes Rony Agustinus Rosdiansyah Rozi Kembara Rx King Motor S Yoga S. Arimba S. Jai Sabda Armandio Sabine Mueller Sabine Müller Sabrank Suparno Saiful Amin Ghofur Sajak Samir Amin Samsudin Adlawi Samsul Anam Sapardi Djoko Damono Sasti Gotama Satmoko Budi Santoso Saut Situmorang Sejarah Selendang Sulaiman Seno Gumira Ajidarma Shinta Maharani Sholihul Huda Sidik Nugroho Sigit Susanto Sihar Ramses Simatupang Sitok Srengenge Siwi Dwi Saputro Sofyan RH. Zaid Sohifur Ridho’i Soni Farid Maulana Sosiawan Leak Sri Pudyastuti Baumeister Sugito Ha Es Sumani Sumargono SN Sunan Bonang Sunaryono Basuki Ks Sunlie Thomas Alexander Suripno Suryanto Sastroatmodjo Susianna Sutardji Calzoum Bachri Sutejo Sutrisno Budiharto Sutrisno Buyil Syarif Hidayat Santoso T Agus Khaidir T.N Angkasa T.S. Eliot Tatan Daniel Taufik Ikram Jamil Taufiq Ismail Taufiq Wr. Hidayat Teater ESKA Teater Pendopo nDalem Mangkubumen Teater Tawon Tedy Kartyadi Teguh Winarsho AS Teks Lagu Keroncong Bengawan Solo Tirto Suwondo Tito Sianipar Tiya Hapitiawati Tjahjono Widijanto Tjoet Nyak Dhien Toeti Heraty Toto Sudarto Bachtiar Tujuh Bukit Kapur Udin Badruddin Umbu Landu Paranggi Undri Uwell's King Shop Uwell's Setiawan Vitalia Tata W Haryanto W.S. Rendra Wahyu Hidayat Wahyudi Akmaliah Muhammad Wawan Eko Yulianto Wawancara Wayan Jengki Sunarta Welly Kuswanto Wulansary Yasunari Kawabata Yeni Mulyani Yetti A. KA Yohanes Sehandi Yonathan Rahardjo Yudha Kristiawan Yudhistira ANM Massardi Yukio Mishima Yusri Fajar Zakky Zulhazmi Zawawi Se Zehan Zareez Zuhdi Swt Zuhkhriyan Zakaria